Delicious LinkedIn Facebook Twitter RSS Feed

Merasakan Kematian

Setelah minta pendapat teman akhirnya aku memutuskan untuk cerita di blog. Jujur, ini sebuah mimpi buruk yang seharusnya ga perlu diceritain tapi ya semoga bermanfaat untuk kamu yang baca.
***

Pernah bayangin gimana nasib kita setelah ajal menjemput?
Atau pernah ngerasa takut akan kematian?
Bahkan mungkin ngerasa biasa aja karena hidup mati udah diatur Tuhan?
Kita ngerasa bahwa kehidupan memang harus dinikmati karena tidak ada kesempatan dua kali untuk hidup. Aku setuju tentang tidak ada kesempatan dua kali untuk bisa hidup. Tapi jika kita berbicara tentang kenikmatan itu memberi 2 persepsi yaitu positif dan negatif. Aku ga bakalan panjang lebar bahas kenikmatan karena yakin kamu lebih paham cara menikmati hidup seperti apa. Sekarang, pikirkan, apa yang dilakukan saat ini mungkinkah berpengaruh pada kehidupan di masa depan?
Apa jawaban mu?
Berpengaruh, kah?
Sebenarnya, apa yang aku utarakan berkaitan dengan amalan yang sudah dilakukan selama hidup. Malam Jumat minggu ini, aku bermimpi sesuatu yang tidak aku duga.  
"Mimpi adalah bunga tidur, tidak usah berlebihan, Din.."
Segelintir orang berbicara begitu padaku. Tapi mimpi ini terasa nyata sekali dan sangat menakutkan jika itu benar terjadi.
Dalam mimpi, aku sudah meninggal, ada rasa penyesalan tentang apa saja yang sudah aku lakukan selama hidup, mengapa aku tidak melakukan sebanyak-banyaknya perbuatan baik, mengapa aku begini.. dan rasanya ingin hidup kembali kemudian melakukan kebaikan. Juga merasakan dimana tidak ada orang yang mengaji saat 7 hari pertama kematianku. Tangisanku tidak bisa ditahan walau itu dalam mimpi, jelas aku sangat ingin hidup kembali untuk kedua kalinya.
Masya Alloh.. itu begitu nyata dan menakutkan walau hanya sebuah mimpi.
Benar, jika tahu waktu kematianmu kapan, yakin kau akan selalu beribadah dan tidak akan melewatkan sedikitpun berdoa memohon ampun.

No one knows the day of his death, that's why we need to pray everyday.
Ibnu ‘Alan di Syarh Riyadhus Shalihin menerangkan maknanya, “sesungguhnya kubur penuh kegelapan karena tidak ada jendela yang bisa dimasuki cahaya. Tidak bisa menyinari (menerangi)-nya kecuali amal-amal shalih dan syafa’at yang diterima oleh Allah Ta’ala.”
Kewajiban kita adalah mengusahakan amal-amal shalih yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan di kehidupan dunia, alam barzakh, dan akhirat. Di antaranya, amal-amal yang bisa menjadi sebab diteranginya kubur kita. Bersamaan dengan itu kita jauhi segala maksiat yang menyebabkan gelapnya kubur.
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2016/11/22/47434/amalamal-yang-menerangi-kubur/#sthash.X1R3xRZ6.dpuf

Ibnu ‘Alan di Syarh Riyadhus Shalihin menerangkan, “sesungguhnya kubur penuh kegelapan karena tidak ada jendela yang bisa dimasuki cahaya. Tidak bisa menyinari (menerangi)-nya kecuali amal-amal shalih dan syafa’at yang diterima oleh Allah Ta’ala.”
Kewajiban kita adalah mengusahakan amal-amal shalih yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan di kehidupan dunia, alam barzakh, dan akhirat. Di antaranya, amal-amal yang bisa menjadi sebab diteranginya kubur kita. Bersamaan dengan itu kita jauhi segala maksiat yang menyebabkan gelapnya kubur.

Semua amal shalih –secara umum- menjadi sebab terangnya kubur. Di antara amal utamanya adalah sabar dan shalat. Ini masuk dalam keumuman makna firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Disebutkan dalam hadits shahih,


"Shalat adalah cahaya, sedekah merupakan bukti nyata, sabar itu sinar, dan Al-Qur’an adalah pembelamu atau penuntutmu.” (HR. Muslim)


Aku mengutip beberapa sumber, tapi inti dari semuanya... kehidupan setelah kematian akan bergantung pada apa yang kita lakukan semasa hidup di dunia. 

Aku tahu bahwa ilmu agamaku tidak sedalam kau yang membaca tulisan ini, tapi Mari berbuat baik untuk menjadikan itu sebuah amalan baik yang dapat kita bawa saat wafat. Berbuat maksiat tidak akan membawamu pada sebuah kebahagiaan yang hakiki, malah akan berujung penyesalan. Mari tinggalkan perbuatan yang merugikan diri dan berubah menjadi lebih baik.

Sungguh, aku tidak sedang menggurui, ini sebuah ajakan. Kau dapat menerima atau menolak. Tapi aku harap kau menerima ajakanku untuk selalu berbuat baik.
 

Ibnu ‘Alan di Syarh Riyadhus Shalihin menerangkan maknanya, “sesungguhnya kubur penuh kegelapan karena tidak ada jendela yang bisa dimasuki cahaya. Tidak bisa menyinari (menerangi)-nya kecuali amal-amal shalih dan syafa’at yang diterima oleh Allah Ta’ala.”
Kewajiban kita adalah mengusahakan amal-amal shalih yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan di kehidupan dunia, alam barzakh, dan akhirat. Di antaranya, amal-amal yang bisa menjadi sebab diteranginya kubur kita. Bersamaan dengan itu kita jauhi segala maksiat yang menyebabkan gelapnya kubur.
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2016/11/22/47434/amalamal-yang-menerangi-kubur/#sthash.X1R3xRZ6.dpuf
Ibnu ‘Alan di Syarh Riyadhus Shalihin menerangkan maknanya, “sesungguhnya kubur penuh kegelapan karena tidak ada jendela yang bisa dimasuki cahaya. Tidak bisa menyinari (menerangi)-nya kecuali amal-amal shalih dan syafa’at yang diterima oleh Allah Ta’ala.”
Kewajiban kita adalah mengusahakan amal-amal shalih yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan di kehidupan dunia, alam barzakh, dan akhirat. Di antaranya, amal-amal yang bisa menjadi sebab diteranginya kubur kita. Bersamaan dengan itu kita jauhi segala maksiat yang menyebabkan gelapnya kubur.
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2016/11/22/47434/amalamal-yang-menerangi-kubur/#sthash.X1R3xRZ6.dpufh

Cuap-Cuap

Sebenarnya gue bingung mulai dari mana, tapi singkat cerita setelah 3 tahun jadi anak kos mungkin inilah titik dimana gue amat sangat bersyukur punya orang tua yang selalu ngirim pesan di WhatApp. Dan gue tidak merasa risih ketika nyokap kirim pesan nyuruh tidur tiap pukul 10 pm, yaa karena itu bentuk peduli. Selama 3 tahun ini juga, gue selalu laporan kegiatan apa aja yang dilakuin setiap hari. Sampe, rapat yang kelar jam 12 malem, gue tetep minta izin dulu. Saat ini, gue engga lagi nyombongin diri tentang begitu taatnya gue atau ngungkapin gue ini anak baik. NO!
Dibalik cerita gue, faktanya banyak orang tua di luar sana tetep mau tahu kabar tentang kuliah kamu. Tapi kenapa, buat kasih kabar ke orang tua kamu lebih jarang daripada ke pacar. Miris.
***
Fenomena ini yang selalu terjadi di sekitar kita. Orang tua yang selalu ngirim uang tiap bulan lebih jarang dikirim chat atau SMS bahkan telepon sekalipun. Sadar ga sadar, kita udah ngelukain perasaan orang tua. 
Pernah ada kejadian, saat gue kerja kelompok dan salah satu temen gue dapet telepon dari nyokapnya.. ga diangkat. Gue bertanya-tanya dalam hati tanpa pengen kepo lebih parah kenapa dia ga mau angkat telepon nyokapnya tapi dia curhat sendiri karena nyokapnya cerewet. Oke, fine. Gue paham gimana cerewetnya nyokap, tapi coba bayangin ketika ga ada lagi yang cerewet di kehidupan kamu, hidup berasa hampa. Kamu ga punya orang yang ngingetin mana yang salah atau bener padahal umur kamu udah gede pasti bisa nentuin hal gitu. Menurut sudut pandang gue tetep aja nyokap cerewet itu paling the best
Akhir kata, gue tahu ini semua hanyalah cerita dari sudut pandang gue, intinya keluarga itu nomor satu baru yang lain.